Bripka Nur Alam, Polisi yang Jadi Guru Ngaji di Pedalaman Mamasa
Terassulbar.com, Mamasa – Seorang polisi bernama Bripka Muh Nur Alam di Kabupaten Mamasa, Sulawesi Barat (Sulbar), mengabdikan dirinya menjadi guru mengaji di wilayah pedalaman. Dia rela bolak balik melewati jalan rusak sejauh 15 kilometer demi memastikan anak-anak di desa binaannya bisa membaca Al-Qur’an.
Bripka Muh Nur Alam merupakan personel Polres Mamasa yang bertugas di Polsek Mambi. Dia mengemban amanah sebagai Bhayangkara Pembina Keamanan dan Ketertiban Masyarakat (Bhabinkamtibmas) di Desa Botteng, Kecamatan Mehalaan.
Sudah sekitar tiga bulan terakhir, pria berusia 45 tahun itu rutin mendatangi anak-anak di desa binaannya untuk mengajar mengaji. Aktivitas tersebut dilakukannya di tengah kesibukan menjalankan tugas sebagai Bhabinkamtibmas.
“Belum lama, baru jalan tiga bulan (Ngajar ngaji),” kata Bripka Nur Alam kepada wartawan melalui sambungan telepon, Sabtu (29/8/2026).
Pria kelahiran 1981 itu mengaku tergerak menjadi guru ngaji setelah melihat kondisi di wilayah binaannya kekurangan guru mengaji. Selama ini, pendidikan membaca Al-Qur’an di daerah tersebut banyak dibantu oleh remaja dan mahasiswa setempat ketika sedang pulang kampung.
Namun, ketika mereka kembali ke kota untuk melanjutkan pendidikan atau perkuliahan, anak-anak di desa tersebut kembali kesulitan mendapatkan guru mengaji.
“Pada saat saya sambang, saya melihat anak-anak di situ kumpul-kumpul saja, katanya tidak mengaji karena gurunya lagi ada kegiatan. Makanya saya ajak masuk ke masjid untuk mengaji,” ungkapnya.
“Memang guru ngajinya terbatas, ada beberapa mahasiswa, tapi kalau mereka sudah aktif lagi kuliah di kota, sudah tidak ada yang kasih belajar mengaji. Sementara warga lain khususnya para orang tua lebih banyak menghabiskan waktu di kebun,” sambungnya meyakinkan.
Bripka Nur Alam mengaku memiliki bekal ilmu agama dan kemampuan membaca Al-Qur’an yang cukup untuk mengajar. Pengetahuan tersebut diperolehnya saat menjadi santri di Pondok Pesantren DDI Manahlil Ulum Kaballangan, Kabupaten Pinrang, Sulawesi Selatan (Sulsel).
“Saya termotivasi apalagi saya juga pernah sekolah agama di Pesantren Kaballangan Pinrang,” tuturnya sambil tertawa.
Kini, sedikitnya 45 anak yang rutin belajar mengaji ke Bripka Nur Alam. Mereka tersebar di lima dusun yang berada di Desa Botteng. Jadwal mengajar diatur Bripka Nur Alam secara bergiliran dari satu dusun ke dusun lain,
“Rata-rata dalam satu dusun itu murid ngajinya 8 sampai 10 orang, total ada lima dusun. Jadi jadwal mengajarnya bergiliran, satu tempat setiap hari,” jelasnya.
Kegiatan belajar mengaji tersebut dilakukan di masjid-masjid setempat. Diakui, kondisi sejumlah masjid yang masih memprihatinkan serta keterbatasan Al-Qur’an menjadi tantangan tersendiri dalam proses pembelajaran.
“Belajarnya di masjid yang kondisinya juga cukup memprihatinkan. Kami juga kekurangan Al Qur’an yang sangat dibutuhkan anak-anak untuk belajar mengaji,” ucapnya.
Untuk menjangkau wilayah binaannya, Bripka Nur Alam harus menempuh perjalanan sekitar 15 kilometer dari Polsek Mambi. Sebagian besar perjalanan itu harus dilalui dengan kondisi jalan yang rusak dan sulit dilewati, terutama ketika musim hujan.
“Kalau jaraknya itu sekira 15 kilometer dari Polsek. Tapi sekitar 10 kiloan yang masih rusak parah dan sulit dilalui apalagi saat musim penghujan,” ucapnya.
Meski begitu, kondisi jalan tersebut tak menyurutkan niat Bripka Nur Alam untuk terus mengajar. Baginya, perjalanan panjang dan medan yang sulit bukan alasan untuk berhenti mendampingi anak-anak di wilayah binaannya untuk belajar mengaji.
“Paling sedikit tiga kali seminggu saya mengajar mengaji. Kalau lagi tidak banyak tugas kedinasan, biasanya bisa lebih, tergantung kondisi,” tuturnya.
Ketekunan Bripka Nur Alam bahkan mendapat perhatian dari warga. Sejumlah warga memintanya untuk tinggal di desa binaan agar dapat lebih maksimal mendampingi anak-anak dalam belajar membaca Al-Qur’an.
“Warga sering meminta saya tinggal. Tapi sulit juga, karena kita sebagai polisi juga banyak tugas lain yang tidak kalah penting,” terangnya.
Pengabdian Bripka nur Alam tidak berhenti pada kegiatan mengajar mengaji. Dia bersama seorang ulama setempat kini tengah merancang program yang lebih besar, yakni membangun rumah tahfidz Al-Qur’an.
“Ini rencana sementara kita cara lokasi di mambi. Rencana mau buat sekolah tahfidz quran bersama seorang ustadz,” ungkapnya.
Nantinya rumah tahfidz tersebut terutama bagi masyarakat khususnya yang kurang mampu. Anak-anak maupun orang tua yang ingin belajar membaca Al-Qur’an dapat mengikuti pembelajaran tanpa dipungut biaya.
“Yang tidak mampu, orang tua tidak mampu baca tulis alquran kita kasih masuk semua di sana, gratis. Kamis sementara berusaha cari lahan, Insya Allah terwujud,” beber Bripka Nur Alam.
Baginya, pengabdian kepada masyarakat tidak selalu harus diwujudkan melalui hal-hal besar. Mengajarkan ilmu agama kepada anak-anak juga merupakan bentuk pengabdian yang dapat memberikan manfaat langsung bagi masyarakat.
Dia berharap kegiatan yang dijalankannya tidak hanya membantu anak-anak mengenal dan membaca Al-Qur’an, tetapi juga semakin mendekatkan kepolisian dengan masyarakat.
“Selain memberikan rasa aman dan tentram kepada masyarakat, melalui kegiatan ini kami berharap dapat meningkatkan kepercayaan masyarakat kepada Polri,” pungkasnya. (**)

