Museum Sebagai Media Pembelajaran

Museum Sebagai Media Pembelajaran

Majene, Terassulbar.com – Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Majene Rustam Rauf menyatakan, pemerintah saat ini tengah berusaha mengelola museum yang ada di Indonesia dan menarik minat para generasi milenial.

“Khususnya, saat ini jumlah kunjungan ke museum Mandar Majene masih sangat rendah, Padahal museum merupakan salah satu destinasi wisata yang dapat dikunjungi semua kalangan masyarakat. Pernyataan ini saya sampaikan pada Festival Permainan Rakyat dan Olahraga Tradisional Tingkat SD dan SMP di Museum Mandar Majene,” ujar Rustam Rauf, Kamis (12/05/2022).

Dipaparkan, berangkat dari kurangnya minat generasi milenial untuk berkunjung ke museum maka pihak Disbudpar Majene mengadakan Lomba Permainan Tradisional Museum sebagai upaya mengenalkan keberadaan museum Mandar. “Museum adalah bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat modern,” tuturnya.

Pada saat sekarang lanjutnya, dapat dikatakan bahwa tidak ada bangsa atau negara di dunia yang tidak memiliki museum. Seolah-olah museum menjadi suatu persyaratan untuk kehadiran suatu bangsa. Perlakuan dan perhatian masyarakat terhadap museum juga beragam. “Ada masyarakat dan bangsa yang selalu bangga akan museum yang dia miliki, memeliharanya dengan baik, menyediakan dana yang cukup untuk memelihara gedung dan barang-barang yang tersimpan di dalamnya,” urainya.

Dijelaskan, tampaknya tingkat kesejahteraan masyarakat berpengaruh terhadap perlakuan dan perhatian museum tetapi tidak dominan. “Museum dijadikan bagian dari gambaran bangsa sehingga dijadikan program utama dalam turisme. Karena pembicaraan setiap generasi menunjukkan kebanggaan akan prestasi bangsa yang terekam di museum,” sebut Rustam.

Sementara, Kepala Bidang Kebudayaan Disbudpar Majene Muhammad Syamsu Nur juga berujar, Majene mengenalkan warisan budaya Mandar melalui Permainan Tradisional yang saat ini semakin hari semakin hilang di telan perkembangan jaman, dimana anak jaman sekarang hanya duduk diam memainkan permainan dalam layar monitor dan sebagainya.

“Jadi, melalui lomba permainan tradisional ini akan mengantarkan anak anak kita pada permainan yang bermanfaat dalam kegiatan belajar untuk meraih prestasi di masa yang akan datang,” ungkapnya.

Ia menguraikan, untuk dasar hukum pelaksanaan Festival Permainan Rakyat dan Olahraga Tradisional Tingkat SD dan SMP mengacu pada Keputusan Bupati Majene Nomor : 89/ HK/KEPBUP/IV/2022 tentang Pengesahan Dokumen Pelaksanaan Anggaran Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Majene Tahun Anggaran 2021.

“Lomba Permainan Tradisional ini, dimaksudkan untuk mengenalkan keberadaan Museum Mandar Majene kepada masyarakat luas pada umumnya dan pelajar pada khususnya melalui kegiatan program publik. Sedangkan tujuannya mengajak para siswa mengenal warisan budaya bangsa melalui permainan tradisional serta untuk mengetahui peran museum sebagai media pembelajaran,” sebutnya.

Dalam pelaksanaan lomba permainan tradisional tambahnya, terdapat 3 permainan tradisional yang di lombakan, yakni lempar gasing dilaksanakan di lapangan makam raja-raja dan hadat Banggae, sementara lomba jekka tarring dan kalacang dilaksanakan di Museum Mandar Majene.

“Untuk pesertanya, tingkat SD dan SLTP se Kecamatan Banggae dan Banggae Timur, dari Dana Alokasi Khusus (DAK) Non Fisik BOP MTB 2022 Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi Republik Indonesia (Kemdikbudristek RI) melalui dokumen Anggaran Satuan Kerja Disbudpar Majene.

Pantauan, festival permainan tradisional yang dibuka Kepala Disbudpar Majene Rustam Rauf dihadiri para siswa tingkat SD, SMP, para guru pendamping siswa, tim juri dan jajaran Disbudpar Majene serta undangan lainnya. (Rzh)

 

Bagikan ke:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.